Kota Yogyakarta,(kalaharinews.co) – Rabu (05/03), umat Katolik sedunia memasuki masa Prapaskah yang diawali dengan perayaan Rabu Abu. Peringatan ini menjadi titik awal bagi umat Katolik untuk memasuki periode refleksi, pertobatan, dan persiapan menjelang perayaan Paskah.
Peringatan Rabu Abu diselenggarakan dengan mengadakan ibadah di gereja-gereja seluruh dunia. Seperti terlihat di Gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta. Gereja yang berada di Jalan AM Sangaji Kota Yogyakarta ini menyelenggarakan empat kali misa untuk melayani umat yang akan beribadah.
“Untuk Misa Rabu Abu diadakan empat kalimisa, yakni Selasa sore (17.30), Rabu Pagi (05.30), Rabu Siang 912.000, dan Rabu Sore (17.30)” terang Prima Intan, selaku seksi liturgi gereja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam misa ini, umat menerima abu yang ditempatkan di dahi mereka dalam bentuk salib, sebagai simbol penyesalan dan pengakuan akan dosa.
“Ingatlah, manusia, bahwa engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” kata Romo Yustinus Winaryanto Pr dalam khotbahnya.
Romo Win juga mengatakan, masa Prapaskah yang berlangsung selama 40 hari adalah kesempatan bagi umat Kristiani untuk memperdalam iman mereka melalui introspeksi dan pertobatan. Masa Prapaskah yang berlangsung selama 40 hariuntuk mengingatkan umat akan perjalanan Yesus di padang gurun selama 40 hari, sebelum peristiwa penyaliban dan kebangkitan-Nya.
Sementara itu dalam surat edaran Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang ditandatangani oleh Romo Romualdus Subyantara Putra Perdana Pr. Selaku Ketua APP KAS disampaikan, selain diisi dengan puasa dan pantang, selama masa Prapaskah yang berlangsung hingga hari Jumat Agung atau hari peringatan wafat Yesus pada 18 April 2025 itu, umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang (KAS) maupun di seluruh Indonesia, juga melaksanakan Aksi Puasa Pembangunan (APP).
APP adalah gerakan solidaritas khas Gereja Katolik di Indonesia. Tujuannya untuk mengajak umat beriman terlibat aktif dalam upaya pembangunan kesejahteraan bersama di bidang sosial-ekonomi, sebagai buah dari olah rohani yang dihayati melalui praktik puasa dan pantang. Gerakan ini selaras dengan situasi zaman sekarang dimana masih banyak ketidakadilan sosial dan kemiskinan di tengah masyarakat.
Dalam surat edaran tersebut romo Subyantara juga menjelaskan, pada tahun 2025 ini, umat Katolik di seluruh dunia juga merayakan Tahun Yubelium, yang mengajak umat untuk hidup dengan penuh pengharapan dan membangun dunia yang lebih adil dan sejahtera. Tema APP tahun ini, Bersekutu dalam Doa, Pertobatan dan Pengharapan yakni mengajak umat Katolik untuk merenungkan makna doa, pertobatan dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita diajak untuk tidak hanya meningkatkan kesalehan diri melainkan harus lebih peka terhadap penderitaan sesama. Kita didorong untuk semakin bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan sumber daya yang kita miliki guna mengambil bagian dalam memerangi kemiskinan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial di masyarakat,” jelas Romo Subyantara. (Wempi Gunarto)