Yogyakarta,(kalaharinews.co) – Program Belajar Bersama Maestro (BBM) yang menghadirkan kolaborasi 10 penari muda dengan maestro tari Didik Nini Thowok resmi ditutup pada Minggu malam (17/8) di Open Space RW 06 Jatimulyo Baru, Tegalrejo, Yogyakarta. Penutupan berlangsung meriah dengan pementasan tari yang tidak hanya melibatkan sepuluh penari muda peserta BBM dan Didik Nini Thowok, tetapi juga anak-anak Down Syndrome dari Sanggar Natya Laksita, serta warga setempat yang ikut ambil bagian dalam pementasan bertajuk “Petik Karya Belajar Bersama Maestro”.
BBM merupakan salah satu program unggulan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang memberi kesempatan generasi muda untuk merasakan pengalaman belajar langsung dari maestro seni.
Tahun ini, BBM Didik Nini Thowok diikuti 10 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing Dwi Indriani (Aceh), Nur Azizah (Palu, Sulawesi Tengah), Ilham Setyo Putro (Temanggung, Jawa Tengah), Siti Nazwa Alya Mariani (Kalimantan Timur), Jenni Hutasoit (Sumatra Utara), Gracella Nolanda Darma Ludiana (Solo, Jawa Tengah), Dendi Chairi (Padang Panjang, Sumatra Barat), Jovita Dwiyanti Maharani (Kudus, Jawa Tengah), Andi Tenri Abeng (Sumbawa Barat, NTB), dan Santike Marta Matruti (Papua Barat Daya).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama hampir satu bulan, para penari muda usia 18 – 25 tahun tersebut menjalani residensi (magang) untuk belajar filosofi, dan teknik tari dari Didik Nini Thowok, sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat RW 06 Jatimulyo Baru, tempat mereka tinggal .
Melalui “Petik Karya Belajar Bersama Mestro” menjadi ruang dialog seni dan budaya, yang menghubungkan Seniman dan warga yang ikut memberi dukungan baik sebagai penonton, penyedia ruang, maupun mitra kreatif dalam pementasan.
Dalam pementasan tersebut sepuluh penari muda secara berurutan mempresentasikan hasil belajar mereka, sekaligus menari bersama Didik Nini Thowok membawakan karya kolaborasi Tari Nusantara dalam sebuah pertunjukan yang memadukan tradisi dan kontemporer. Kehadiran warga sebagai peserta pementasan, dan juga penonton turut menambah semarak, menjadikan acara penutupan BBM bukan hanya milik peserta BBM, melainkan menjadi pesta budaya bagi Masyarakat.
“BBM bukan sekadar proses belajar menari, tetapi juga belajar hidup bersama masyarakat, memahami kearifan lokal, dan bagaimana seni dapat tumbuh melalui kebersamaan,” ungkap Didik Nini Thowok dalam sambutannya. Menurut Didik, “Program BBM ini sangat penting, karena menanamkan pengertian, pemahaman dan kecintaan pada generasi muda terutama, tentang keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia.”
“Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta tidak hanya menjadi agen pelestari budaya di daerah asal mereka, tetapi juga membawa semangat gotong royong dan nilai kebersamaan seperti yang mereka alami di Jatimulyo Baru”, ujar Noryanto, Kepala Sub Direktorat Fasilitasi dan Perlindungan HAKI berbasis Budaya Kementrian Kebudayaan Ri yang hadir dalam acara tersebut.
NB: Foto 10 peserta BBM foto bersama dengan Maestro tari Didik Nini Thowok, Maestro Nasirun, dan Perwakilan kementrian Kebudayaan RI. (Wempi Gunarto)